Tuhan. Ini mau Mu kah?

Tuhan. Ini mau Mu kah?

Ketika rasa mulai mekar.
Kau bilang, hati harus sabar.
Rasa untuk sesama, tak seharusnya mengakar.
Rasa mu tempatkan dengan wajar, itu yang benar.

Tuhan, beri kemampuan jiwa, agar tak lelah menata kepingan rasa.
Tuhan, beri ketegaran jiwa, agar mau Mu mudah hati menerima.
Tuhan, beri kemudahan, disaat rasa sulit untuk apa adanya.

Tuhan. Ini mau Mu kah?

Semua milik Mu, pun sebentuk hati ini yang sedang berserah diri.

-KamarAries, 20.24-

Ku menunggu dalam bimbang
Adakah sungguhnya aku
Kasih yg kau inginkan
Biar aku menepi
Bukan lelah menanti…
(Cinta Sendiri, Kahitna)

What a wonderful world…

Bahagia.

Saya suka dengan kata itu. Kata yang seringkali saya rangkai ketika sedih.

Sedih.

Saya suka juga dengan kata itu. Kata yang selalu saya ingat ketika bahagia.

Mencintai sedih dan bahagia dengan kadar yang sama, seimbang, tidak berlebihan adalah cara bersyukur yang paling sederhana untuk mencintai kehidupan itu sendiri.

***

Wajar ketika bahagia dan sedih datang secara bergantian menemani hati. Kebagiaan bukan dicari, namun diciptakan. Pasti akan menemukan kesulitan jika mencari kebahagiaan seperti yang kita mau di orang lain. Karena perbedaan rasio kebahagiaan setiap orang berbeda. Meskipun mereka adalah orang terdekat kita, orang tua – suami – anak – saudara – tetangga atau siapapun yang mewarnai kehidupan kita. Selain rasio kebahagiaan menurut setiap orang berbeda, mereka juga tak sempurna sama seperti kita yang seringkali khilaf, sehingga tak jarang membuat mereka kecewa.

Jangan terlalu lebay untuk jengkel karena kita pernah dibuat kecewa suami, sahabat, saudara atau siapapun, toh kita juga pernah mengecewakan mereka (guys, sadar atau tidak kita pernah berbuat salah). Allah mengajarkan kita mengeja kata ‘maaf’ setiap harinya melalui permasalahan dalam kehidupan. Allah yang Maha Pemaaf, meminta kita belajar untuk memaafkan sesama, agar kita tenang ketika bernafas. Bukankah dendam hanya akan membuat kita sesak dada, berat ketika bernafas? ketenangan yang kita miliki akan semakin sempit dengan rasa sakit hati yang berlebihan. Allah ingin kita memperbaiki diri dengan memaafkan sesama agar kebahagiaan tercipta.

Terkadang menuruti hawa nafsu, akan membuat kita menemukan kebahagiaan semu. Kebahagiaan dimata, dan gelisah di hati. Maka, jangan menunggu kebahagiaan yang haqiqi datang. Jemputlah dengan menciptakan kebahagiaan. Kebahagiaan dengan cara memberi dan berbagi kebahagiaan yang kita punya. Kebahagiaan dengan cara menciptakan cerita indah dengan mereka yang menyayangi kita. :)

Jangan egois! kebahagiaan itu harus diciptakan. Berbesar hati lah menerima kenyataan itu. Sebab cara kita hidup di hari ini adalah gambaran masa depan.

Karena kita adalah sejarah, mau indah atau suram, tergantung apa yang akan kita tulis dalam ‘sejarah’.
Selamat menulis sejarah. Jangan takut menulis, Allah bersama kita. :)

-KamarAries, 19.08-

The colors of a rainbow…..so pretty ..in the sky
Are there on the faces…..of people ..going by
I see friends shaking hands…..sayin’.. how do you do
They’re really sayin’……I love you.

I hear babies cry…… I watch them grow
They’ll learn much more…..than I’ll never know
And I think to myself …..what a wonderful world
(Louis Amstrong, What a wonderful world)

a.n.y.t.i.m.e

@Jalan kahuripan, coffee & food & boutique, used, dieng. 17.50-20.45-

It can happen to..
Anyone of us, anyone you think of
Anyone can fall Anyone can hurt someone they love
Hearts will break
‘Cause I made a stupid mistake
It can happen to..
Anyone of us, say you will forgive me
Anyone can fail, Say you will believe me
I can´t take my heart will break
‘Cause I made a stupid mistake A stupid mistake…
-Anyone Of Us, Gareth Gates-

Ketika sebuah rasa tak asing lagi mewarnai hidup kita, rasa: cinta dan benci / menemukan dan kehilangan / lama dan baru / bahagia dan sedih / datang dan pergi, atau yang semacam. Ya, mereka semua ada dan datang silih berganti. Datang tanpa diminta.
Apakah kita bisa menghindari mereka? lari jauh ketika salah satu rasa dari mereka menghampiri hati? tentu tidak, karena mereka semua adalah anugerah. Namun kita diberi karunia untuk mengelola mereka, mereka yang mewarnai rasa dalam kehidupan kita. Karena mereka adalah rasa yang butuh untuk di seimbangkan ketika mereka datang dengan rasa yang berlebihan. Yang kita butuhkan waktu untuk berdamai dengan mereka. :)
Cinta sesama sejatinya tak berlebihan, karena cinta tak ingin dihampiri benci yang berapi-api. Agar ketika menemukan yang baru atau yang lama dengan nuansa baru, kita tak terlalu bahagia hingga kesedihan begitu cepat datang. Atau rasa yang tak terkendali, lalu yang ada hanya emosi. Jadinya, capek hati.

Cinta itu sabar, sabar mendengar. Cinta itu rela, rela berbesar hati. Cinta itu mengalah, mengalah untuk keutuhan cinta.
Cinta ada dalam maaf tanpa batas. Cinta ada kapanpun kau mau. Cinta itu dekat, karena Allah mendekatkan. :)

-w/ si sendal jepit joger biru. terimakasih-

18/22 (home)

~Home~
“I’m fine baby, how are you?”
Well I would send them but I know that it’s just not enough
My words were cold and flat
And you deserve more than that
May be surrounded by a million people
Still feel all alone
I just wanna go home…
(home, Michael Buble)

***
18/22, ini bukan tentang pasangan angka tak bermakna.

18/22, kami pernah saling memberi kejutan di 18 dan tak pernah
melewatkan untuk berbagi cerita di 22. Meski sekedar ritual agar tetap ada, atau tak ingin salah satu angka terlewat begitu saja.

18/22, kami sadar bahwa waktu begitu cepat berlalu mendahului usia. Waktu begitu cepat menyembuhkan luka yang pernah singgah. Ya, begitu cepat atau kami yang ingin melupakannya. Entahlah.

18/22, kami ingat, ketika tubuh tak mampu menopang kekecewaan, ketika air mata tak mampu ditahan di tengah keramaian, ketika telinga sulit mendengar hikmah, namun yang kami tahu hanya ‘waktu yang tak ingin sia-sia berlalu dari usia’.

18/22, rumah. Kami pernah menyebut kebahagiaan dengan kata rumah. Kami pernah menyebut cinta dengan kata rumah. Kami pernah menyebut kehangatan dengan kata rumah. Dan rumah pula yang ternyata memaksa kami dewasa, rumah salah satu alasan yang terbesit di kepala kami untuk meninggalkannya sambil menahan isak tangis di balik selimut, atau membiarkan tangis pecah diujung telepon dengan 22 di salah satu bilik sebuah wartel dekat rumah. Lalu rumah pula yang membuat kami sempat kehilangan harapan dan patah hati dengan panutan, namun disaat yang sama ternyata rumah yang membuat kami mempunyai kekuatan bermimpi. Dan kelak mimpi tersebut yang membuat kami bertahan untuk menciptakan ‘rumah-rumah’ lain yang lebih abadi seperti airmata kami yang seringkali berganti. Baiti Jannati.

18/22, kami selalu mengulang tentang rumah. Rumah yang menyimpan curahan cita-cita kami, rumah yang pernah membuat kami menyimpan kecewa. Bagi kami, mampu melewati anak tangga rumah dengan kepala tegak meski kami baru menyeka air mata, seperti menambah keyakinan kami, bahwa kami mampu melewati anak tangga ujian kehidupan kami selanjutnya.

18/22, kami mengerti, rumah kami mungkin rindu dengan kehadiran kami, rindu dengan cerita-cerita kami, rindu dengan baju basah kami yang terkena air hujan sepulang sekolah.

18/22, apapun tentang rumah kami, suatu saat nanti kami ingin pulang, membawa cita-cita yang pernah kami tulis di tembok rumah. Mengenalkan buah hati kami pada cerita ‘isi’ rumah. Hingga kami siap menyebut kembali cinta dengan sebutan rumah. Rumah Aries.

Let me go home
I’m just too far from where you are
I wanna come home…..

-JalanAries, 180412 (v2)-

Suatu Masa (Jalan Aries)

-Jalan Aries, 2012-

…What kinda life would that be
Oh and I, I need you in my arms need you to hold
You’re my world, my heart, my soul
If you ever leave. -how do i

Sebuah bagian yang mewarnai kami. Bagian yang biasa saja, tapi sangat berarti buat kami. Mencoba merangkum bagian yang tak terhingga itu menjadi ringkas. Untuk diingat, karena ada banyak asa meskipun sempat patah. Namun kami bisa melaluinya . Yang selalu kami rindui, mereka adalah:

* Bagian dari keluarga. Karena mereka, kami ada. Papa, Ayah, Mama, Ibu, mbak2 & mas2, para ponakan, om tante, budhe, mereka yang selalu mengerti bahwa kami seringnya bersama waktu itu sampai kini. Hingga tetangga kami pun memaafkan ke eksisan kami. Terima kasih.

* Bagian dari awal kami berkarya. SMP, tempat kami pernah berjaya. Dengan berbagai ekstrakulikuler yang tak mungkin terlupa. Menorehkan prestasi, menuangkan mimpi “the power of moslem” nya kami yang tak mungkin lekang oleh waktu. Hingga kini masih ‘ada’.

* Bagian dari cerita remaja. Home Alone, it takes two, Parent trap, The mask of zorro, Children of heaven, Ten things i hate about y, Party of five, Friends, Spanglish, Ben stiller, Drew Barrymore, BSB, Adam Sandler, How do i-trisha yearwood, When u believe-Whitney & Mariah, it must have been love – Roxete w/ Pretty Women, Andien-Sahabat.
Beberapa favorite kami, yang membuat lupa ketika sedih. Dan Masih banyak lagi.

* Bagian dari “ritual” menyenangkan. Dinner ala kami, dengan candle light & menu sederhana. Disana waktu untuk berbagi. Sok romantis tapi selalu berhasil membuat hidup kami bermakna, dan menemukan kembali semangat diantara kami. Lalu kami pun tidur nyenyak malam harinya.

* Bagian dari sebuah cinta kami yang karena Nya, Allah. Ada Masjid Jami’ – tempat bercerita dengan banyak janji kami. Tempat yang selalu berhasil menenangkan hati kami.

* Bagian dari peringan beban (hidup). Roti maryam di sudut daerah cairo. Jalan kaki malam hari dengan berpiyama, melewati sepanjang Basuki Rahmat. ‘Sabtu malam wajib kami’ dengan saling mengantar pulang (aneh ya), baru sadar sekarang bahwa waktu itu kami enggan berpisah namun harus pulang. Sweat.

* Bagian dari belajar (wajib) hemat. Mesin ATM, tempat kami bergantung hidup meski dengan pecahan 20 ribu.

* Bagian dari awal perjalanan. Solo & Jogja. Backpacking pertama kami, dengan ditemani berkali2 telepon dari keluarga, dan tak terlupakan duo si embah (thanks to Mbah mudono di Solo & Mbah tris di depan beringharjo Jogja. Kangen nih :p). Tak hanya nusantara yang ingin kami singgahi bersama, Tanah suci pun tak pernah terlupa dari cita-cita kami.

* Bagian dari tempat berteduh. Ada rumah & bangunan Aries. Bahwa proses pendewasaan untuk mengerti sebuah kehidupan, pernah dan akan kami lalui sepanjang hidup kami. Mudah mengerti, sulit dimengerti, mudah memahami, sulit dipahami, mudah menerima, sulit diterima, sudah sering kami lewati. Tak jarang Jalan Aries ini menyaksikan airmata kami bersama hujan atau bersama malam. Sulit bagi kami menangis tanpa sebab, karena banyaknya persoalan yang harus kami selesaikan. Kami sadar, semua tak ada yang abadi termasuk airmata. Karena akan ada airmata baru yang akan menguatkan kami.

* Bagian dari kami. TK ABA 36, Malang 1988. Disinilah tempat kami untuk pertama kalinya mengenal sebutan ‘Guru’. Terimakasih. Terimakasih. Terimakasih.

Mungkin ada ribuan episode waktu yang telah kami lalui bersama. Pelukan, sun sayang, sebuah genggaman, senyuman, tangisan, marahan yang selalu cuma sebentar. Saling merepotkan 1 sama lain, saling memaksa 1 sama lain, saling menangisi 1 sama lain & saling mentertawakan 1 sama lain.
Insya Allah, bagian cerita kami akan tetap ada dengan kehadiran suami – anak2 – cucu2 kami kelak yang akan mewarnai cerita – cinta & cita kami. Serta kehadiran keluarga besar & sahabat2 kami yang lain, yang setia mewarnai kehidupan kami. Aamiin Allahumma Aamiin. 

“Sebuah kehidupan, selalu ada akhir. Khusnul khatimah, adalah keinginan kami terakhir. Semoga.”

-Berbagi kisah, 18.22-

D.i.r.i.(s.e.n.d.i.r.i)

Batu kecil pun ciptaanNya. Pengingat hati-hati untuk melangkah.
Bahwa di depan sana, akan ada batu besar yang mungkin akan membuat kita sejenak berhenti melangkah.

-Sudut Kamar, 19.05

Sebuah rutinitas yang selalu saya anggap membosankan tiba-tiba terlihat menarik. Menarik untuk pengalih perhatian saya pada sebuah kejenuhan diri.
Jenuh, lalu memutuskan untuk menangis, yah, menangis. Kalian pasti pernah menangis. Menangisi ketika kehilangan atau mendapat kebahagiaan. Bagi saya, menangis ya menangis saja. Sudah waktunya menangis. Menangis untuk melembutkan hati, agar diri dengan rendah hati meminta padaNya, supaya diberi ketegaran berlipat-lipat. Menyadari bahwa sebuah tawakal butuh perjuangan yang hebat.

Allah tahu kapan kita butuh untuk menangis.

Bukan, ini bukan tentang (sok) mellow atau galau belaka. Ini tentang kekuatan diri ketika lemah. Lemah menghadapi diri sendiri. Yang selalu ingin merasa, kita saja yang bermasalah di dunia ini. Padahal Tuhan Yang Maha adil menciptakan masing-masing setangkup kerikil kehidupan pada setiap hambanya. Agar kita bersyukur ketika diberi nikmat oleh-Nya tanpa meminta.

Karena, Tuhan tahu benar seberapa mampu kita menghadapi permasalahan.

Laa Yukallifullahu Nafsan Illaa Wus’ahaa.

Yah, Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.

Kita tidak sendiri, sebab Allah selalu mengirimkan seseorang untuk memberitahu bahwa ada kerikil di depan sana. Sebagai penunjuk kebaikan setelahnya.

tenanglah, semua akan baik-baik saja.

*backsound : Brian McKnight – Win…

Pernak – pernik cerita ketika (tak) lagi muda.

It’s about learning the greatest housewife…

23/12/11 11:11
From : Phrida (081xxxxxxxx)
Faiz tanggal 25 kita ketemuan ya, mumpung ada venty & myke….

Berawal dari sms singkat dari sobat SMA saya, maka lahirlah postingan ini.

Hujan sedang mengguyur Malang Raya dan sekitarnya ketika pertemuan yang hampir bertahun2 lalu pasca mereka pada jadi emak2 (baca : Ibu Rumah Tangga). Setelah ribuan SMS dikirim ke saya, akhirnya terjadilah kesepakatan bahwa PBI blok C3 nomernya rahasia adalah tempat pertemuan kami. Dulu rumah ini adalah salah satu base camp kita (sebetulnya rumah kami semua adalah base camp, tapi karena pas jaman SMA dulu sopirnya bu Myke ini sering ngangkut kami ke PBI, maka jadilah tempat ini ialah tempat paling strategis buat janjian anak2 Bonnami Femme – nama pemberian Venty untuk kami ber 5 diambil dari bahasa perancis, sewaktu mbak Lina, kakak Venty kuliah ambil jurusan bahasa. Artinya, apa yaa. hehe).

Setelah penuh perjuangan dan menyempatkan waktu disela-sela ke(sok)sibuk(an) kami, maka jadilah 2 wanita menjemput nyonya besar (baca : saya) di pojokan komplek PBI. Hehe. Dan dilanjutkan mengobrol bebas di tempat makan steak daerah Soekarno Hatta ditemani hujan gerimis romantis di malam hari. Uhuy yah :D

Pembaca yang budiman, bisa ditebak yaa jika Ibu Rumah Tangga satu bertemu dengan Ibu2 Rumah Tangga yang lain maka arah pembicaraannya adalah.. jreng jreng seputar IBU RT. Silahkan pada yang mau bertanya apa peran saya dipertemuan tadi selain memeluk kangen mesra mereka satu per satu. Ya, saya adalah perempuan yang sibuk mendengar – meresapi ilmu seputar Ibu2 muda ini. Mereka adalah:

• Venty, domisili di Ibukota. Bersuamikan pebisnis property, yang anak tunggal & tinggal berdekatan dengan Ibu Mertua. Doi paling Ke-Ibuan diantara kami. Jaman dulu, yang paling nge hibur saya di Salon pas potong rambut terlalu pendek (hal yang paling sempat membuat saya depresi *sigh) hey, dan dia yang nge sun kening saya biar saya ga nangis gulung2 di salon. Wanita ini Ibu dari Aran yang ganteng.
• Sefri, domisili di Lumajang. Bersuamikan Pak Lurah (jangan tanya lurah mana, sumpah saya belum nanya, karena hari ini doi ga lagi mudik. So doi tidak hadir dalam pertemuan maha penting versi kami). Oh iya, doi beranak 1 usia 2 tahun.
• Myke, domisili di Madiun. Bersuamikan pengusaha beras, katanya gudangnya segede lapangan bola. Wanita ini Ibu dari 3 anak manusia. Doi selalu menang dalam hal apapun, salah satunya adalah juara 1 suara paling keras diantara kita.
• Phrida, seorang karyawan swasta yang berdomisili di Surabaya. Bersuamikan seorang karyawan swasta juga. Yang juga beranak 1 lelaki. Doi dulu sering menghabiskan sedikit waktu bersama saya di suatu tempat yang bernama Studio Musik Ucok AKA. Bukan, kami bukan menyewa studio untuk belajar kelompok atau main petak umpet, tapi kami pernah berusaha ingin bermain gitar dengan baik dan bersahaja, makanya kami bersekolah gitar disana. Ya itu dulu. Sekarang saya hanya wanita biasa yang menikmati musik apa saja. Hehe.
• Dan saya, Faiza. Yang menulis postingan ngaco ini.

Bahwa mereka telah mengajarkan banyak hal hari ini. Bahwa ternyata sesosok Mertua adalah hal yang paling penting dalam kehidupan mereka untuk di SAYANGI secara tegas. Mungkin maksud mereka bahwa mertua itu harus disayangi dan dihormati. Hehe.

Dan tak lupa pertanyaan maksa, tentang kapan me-Nikah-nya saya dari bu Myke yang menuntut dijawab sekalian se bulan2 nya. Seperti jawaban ujian akhir semester yang butuh beberapa menit buat cari contekan. (kali ini thanks to sahabat nun jauh disana. “thanks berat dude, jawaban sedikit di edit”.^^).

Semoga bertemu dengan mereka membuat saya lebih matang menjadi Ibu Rumah Tangga yang super :-)

*backsound : Lenka – trouble is a friend…

(makasih guys, ribuan peluk & sun buat kalian)

-Rumah Aries, 251211-

Selamat hari lahir ke 8 bulan…

17 April 2011 yang lalu hidup saya kembali diwarnai oleh makhluk baru. Makhluk mungil – imut – gemesin –  lucu dah, beda jauh sama ayah ibunya (berdoa, semoga bokap nyokap nya ga napsu baca nih postingan :p).
Dan semoga pula makhluk itu tetep gemesin sampai nanti kelak sudah tak mungil lagi a.k.a dewasa. Namanya Muhammad Alif Asyam Hasanudin. Di usia yang belum dewasa ini, kalif (singkatan dari kakak alif, itu panggilan aneh dari saya :p) doi udah bisa godain saya (lho kok, harusnya saya yang godain doi yak, hehe), doi udah bisa pegang botol susu sendiri, pegang & maem biskuit sampai abis (jarang dibuang), kalo udah kenal doi, uaduh pasti bakal dipamerin ketawa renyah nya dan senyumnya yang … yang bikin kita cubit pipinya (dan saya ga rela ada yang menjamah pipinya dengan kasar.uh).

Nah, lihatlah betapa gemesinnya ponakan saya beda sama ammah nya (*nunjuk diri sendiri* ammahnya lebih gemesin).

Tepat 2 hari yang lalu adalah hari lahir ponakan pertama saya yang ke 8 bulan. Sengaja pulang kerja tepat waktu, lalu meluangkan waktu bermain denganya. Untuk hari ini rela deh saya di kecup basah banget (lidah dijulurin ke pipi saya), rela deh sesekali nyanyi gajelas didepan doi demi liat ketawa renyah nya.

Silahkan bagi pembaca (emang ada yang baca) yang menilai saya terlalu lebay karena kegirangan saya merayakan 8 bulan ponakan saya. Tahukah, bahwa kegirangan saya hari ini, ditatap oleh sepasang mata Kalif dengan tatapan penuh harap, seolah mengungkapkan isi hatinya “ammah kapan Kalif punya sepupu baru”, oh rupanya Kalif hampir mirip Ibu2 rumpi yang selalu menanyakan “kapan undangannyaa nak, ditunggu lho ya”.

Khusus untuk Kalif, saya akan menjawab dengan penuh senyum tanpa ingin lempar sendal jepit, “tenang, Kalif  pasti akan punya adik sepupu, makanya doain ammah dong”. Aamiin.

Sambil nungguin dia minum susu botol, saya ajak dia ngobrol versi saya. Bahwa saya meminta maaf belum jadi ammah yang baik, dan ammah yang belum baik ini berharap kelak ketika dewasa tetaplah bertahan disana dengan segala permasalahan orang dewasa. Jangan takut dengan kehidupanmu, jagalah Allah, maka pasti Allah akan menjagamu. Tetap lah bermimpi, lalu kuatkan niat untuk melangkah mewujudkan mimpi. Kalif, jadilah lelaki baik untuk Allah, kata Allah harus sayang Ibu & Ayah ya kak. :-)

-postingan ini untuk saudara lelaki Kalif dari ukhti Vivi & mas Ian, Akhtar Aqeel Zakaria-

*backsound: Sheila On 7-Kamus Hidupku*

Kedua lelaki kecil, Kalif & Aqeera, Kelak kalian pasti bisa mengambil hikmah & menang sepenuhnya. ^-^

Si embak punya cerita…

Malming kali ini disponsori oleh Embak Lilik, yang ngerawat saya kecil. Pasti pada bersuara sumbang, “dirumah aja nih neng?”, emang kenapa dirumah doang pas Sabtu malem, ga rela? ayuk sini traktir saya makan diluar, daripada ngehina saya, ga dapet pahala, malah dosa yang iya *sigh*

Saya wanita klasik, yang ga suka keluar di Sabtu yang sendu ini (uhuk). Keliatan cupu ya? biiaar. Tapi alasan kali ini saya ga keluar rumah adalah menjaga rumah yang lagi sepi dengan ditemani si embak asisten RT. *bukan ngeles*

Sedikit cerita tentang embak Lilik, yang sempet jadi pahlawan di masa kecil saya. Yang ngejemput saya pas TK. Yang nyuapin saya pas SD. Yang nyuciin & setrika baju saya pas SMP. Dan kali ini embak Lilik kembali mengisi hidup saya disaat saya sudah dewasa (hehe, lebay yak :p

Sembari nonton Super Trap di TransTV, si embak mijitin punggung saya enak banget (padahal cuma 5 menit doang mijitnya, mau bilang lagi sungkan). Saya iseng bilang gini, “embak Lilik ntar ikut aku aja ya, tenaang ikut aku pasti seneng, kan aku ga bawel kayak tetangga sebelah (maaf jadi ngomongin orang)?” dan jawaban embak Lilik adalah, jreng..jreng.. “Lha suaminya embak Lilik ikut siapa??”. yaah, embak Lilik sudah bersuami. Dan suami si embak mungkin lebih membutuhkannya daripada saya yang hanya butuh diladenin embak Lilik kayak waktu kecil dulu. (hiks))

Kejadian lain lagi bareng embak Lilik belakang ini adalah pas ngajak si embak makan steak (iya steak, bukan lalapan). Ngajak doi makanpun ga bilang2 dulu. Bisa ditebak, si embak ga bakalan mau. Maklum doi pemalu BANGET kayak SAYA (uhuk). Lanjut ya, skenarionya saya pura2 minta tolong ditemenin shalat di Masjid Jami’ Malang (iya Malang, bukan Jogja. Hiks). Pas pulang dari masjid, kita jalan kaki. kebetulan rumah saya di tengah kota dan saya pelanggan setia angkot se Malang Raya (ga penting). Tapi makan malam dengan si embak kali ini jalan kaki doang, abis kalo naik angkot, bingung mau bayar berapa. hehe.
Lanjut ah, pas belok ke tempat makan. Bisa ditebak lagi, si embak kaget dan bilang “aduh, embak lilik abis makan nasi lho ya, pokoknya ndak mau maem”. Saya memandang kasian, lalu menjelaskan pada si embak kalo kita ga makan nasi, tapi makan kentang – sayur rebus – chicken steak dengan media hot plate + garpu + pisau & ditutup dengan capucinno float. Lalu tak disangka si embak bilang, “oh, ajarin embak Lilik maem pake garpu & pisau ya”.

Horee, akhirnya kita makan dengan riang. Dan si embak pun senang.

*backsound, Akon-rightnownanana…”

Buat temen-temen yang punya embak dirumah kalian, sesekali ajaklah makan diluar, biar si embak punya cerita indah tentang kalian. ^-^

Berlayar Denganku

Untuk sebuah persahabatan yang terbingkai waktu.
Terimakasih untuk memberi ketegaran ketika ujian menyapaku.
Yang ku tahu, ketika tangisan tak mampu kusimpan dalam pilu.
Genggamanmu yang ku butuh setelah itu.
Bahwa katamu, ‘lukaku’ pasti disembuhkan oleh waktu.
Semua akan baik-baik saja, beratus kali kau ulang itu.
Dan ini untukmu. Yang selalu mengingatkan tentang ‘mimpi2′ku.

Berlayar Denganku.

hidup bukan tuk berdiam diri
hidup ada tuk kita jalani
cobaan bukan tuk ditakuti
cobaan harus kita hadapi

bagai mengarungi lautan lepas
menghadapi ombak badai

pilih perahu tidaklah mudah
kita tentu tak mau tenggelam
perahu ini milik kita
naiklah jangan pernah kau turun

bagai mengarungi lautan lepas
menghadapi ombak badai, menghadapi ombak badai

berlayarlah denganku, bertumpulah di pundakku
bersamaku engkau tak perlu ragu
tatap mataku maka kau kan tahu
semuanya kan baik saja

hidup bukan tuk berdiam diri
hidup ada tuk kita jalani

berlayarlah denganku, bertumpulah di pundakku
tatap mataku maka kau kan tahu
semuanya kan baik saja.

-Sheila On 7-

Rumah Aries, 21.10
(Untuk sebuah proses. Tetap semangat ^-^)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 485 other followers