-Jalan Aries, 2012-
…What kinda life would that be
Oh and I, I need you in my arms need you to hold
You’re my world, my heart, my soul
If you ever leave. -how do i
Sebuah bagian yang mewarnai kami. Bagian yang biasa saja, tapi sangat berarti buat kami. Mencoba merangkum bagian yang tak terhingga itu menjadi ringkas. Untuk diingat, karena ada banyak asa meskipun sempat patah. Namun kami bisa melaluinya . Yang selalu kami rindui, mereka adalah:
* Bagian dari keluarga. Karena mereka, kami ada. Papa, Ayah, Mama, Ibu, mbak2 & mas2, para ponakan, om tante, budhe, mereka yang selalu mengerti bahwa kami seringnya bersama waktu itu sampai kini. Hingga tetangga kami pun memaafkan ke eksisan kami. Terima kasih.
* Bagian dari awal kami berkarya. SMP, tempat kami pernah berjaya. Dengan berbagai ekstrakulikuler yang tak mungkin terlupa. Menorehkan prestasi, menuangkan mimpi “the power of moslem” nya kami yang tak mungkin lekang oleh waktu. Hingga kini masih ‘ada’.
* Bagian dari cerita remaja. Home Alone, it takes two, Parent trap, The mask of zorro, Children of heaven, Ten things i hate about y, Party of five, Friends, Spanglish, Ben stiller, Drew Barrymore, BSB, Adam Sandler, How do i-trisha yearwood, When u believe-Whitney & Mariah, it must have been love – Roxete w/ Pretty Women, Andien-Sahabat.
Beberapa favorite kami, yang membuat lupa ketika sedih. Dan Masih banyak lagi.
* Bagian dari “ritual” menyenangkan. Dinner ala kami, dengan candle light & menu sederhana. Disana waktu untuk berbagi. Sok romantis tapi selalu berhasil membuat hidup kami bermakna, dan menemukan kembali semangat diantara kami. Lalu kami pun tidur nyenyak malam harinya.
* Bagian dari sebuah cinta kami yang karena Nya, Allah. Ada Masjid Jami’ – tempat bercerita dengan banyak janji kami. Tempat yang selalu berhasil menenangkan hati kami.
* Bagian dari peringan beban (hidup). Roti maryam di sudut daerah cairo. Jalan kaki malam hari dengan berpiyama, melewati sepanjang Basuki Rahmat. ‘Sabtu malam wajib kami’ dengan saling mengantar pulang (aneh ya), baru sadar sekarang bahwa waktu itu kami enggan berpisah namun harus pulang. Sweat.
* Bagian dari belajar (wajib) hemat. Mesin ATM, tempat kami bergantung hidup meski dengan pecahan 20 ribu.
* Bagian dari awal perjalanan. Solo & Jogja. Backpacking pertama kami, dengan ditemani berkali2 telepon dari keluarga, dan tak terlupakan duo si embah (thanks to Mbah mudono di Solo & Mbah tris di depan beringharjo Jogja. Kangen nih :p). Tak hanya nusantara yang ingin kami singgahi bersama, Tanah suci pun tak pernah terlupa dari cita-cita kami.
* Bagian dari tempat berteduh. Ada rumah & bangunan Aries. Bahwa proses pendewasaan untuk mengerti sebuah kehidupan, pernah dan akan kami lalui sepanjang hidup kami. Mudah mengerti, sulit dimengerti, mudah memahami, sulit dipahami, mudah menerima, sulit diterima, sudah sering kami lewati. Tak jarang Jalan Aries ini menyaksikan airmata kami bersama hujan atau bersama malam. Sulit bagi kami menangis tanpa sebab, karena banyaknya persoalan yang harus kami selesaikan. Kami sadar, semua tak ada yang abadi termasuk airmata. Karena akan ada airmata baru yang akan menguatkan kami.
* Bagian dari kami. TK ABA 36, Malang 1988. Disinilah tempat kami untuk pertama kalinya mengenal sebutan ‘Guru’. Terimakasih. Terimakasih. Terimakasih.
Mungkin ada ribuan episode waktu yang telah kami lalui bersama. Pelukan, sun sayang, sebuah genggaman, senyuman, tangisan, marahan yang selalu cuma sebentar. Saling merepotkan 1 sama lain, saling memaksa 1 sama lain, saling menangisi 1 sama lain & saling mentertawakan 1 sama lain.
Insya Allah, bagian cerita kami akan tetap ada dengan kehadiran suami – anak2 – cucu2 kami kelak yang akan mewarnai cerita – cinta & cita kami. Serta kehadiran keluarga besar & sahabat2 kami yang lain, yang setia mewarnai kehidupan kami. Aamiin Allahumma Aamiin.


“Sebuah kehidupan, selalu ada akhir. Khusnul khatimah, adalah keinginan kami terakhir. Semoga.”
-Berbagi kisah, 18.22-